This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

04 February 2008

Hati-hati dengan LOA

Melanjutkan cerita kemarin, sampai sekarang saya masih bingung, bagaimana bisa saya salah perhitungan? Padahal selalu saja ada cadangan dana di Inkjeto (nama toko tinta saya). Dan memang selalu saya sisihkan tiap bulan. Setelah saya cari-cari, akhirnya ketemu juga penyebabnya. Meski bukan pasti, tapi kemungkinan besar.

Ini semua berawal dari Tahun Baru 2008. Saya dapat PR dari Bu Dayu untuk membuat resolusi 2008. Saya memang sudah membuat Resolusi 2008, dan memang tidak banyak, hanya 1. "Menambah Kapasitas", itu dreams saya di tahun ini. Meski hanya 1, tapi bagi saya itu sudah mencakup semuanya.
Dan, semua akhirnya benar-benar terjadi !

Ya, saya menulis saya ingin menambah kapasitas apa saja, seperti menambah kapasitas iman, menambah kapasitas cartridge dan printer di Inkjeto, dan menambah kapasitas penjualan BelaCell. Tidak disangka ternyata salah satu poin tercapai lebih cepat, dan efeknya cukup fatal juga.

Saya memang menambah kapasitas toko untuk cartridge, tapi dengan meminimalkan saldo. Wah, jangan terulang lagi deh. Sperti kata iklan, "nggak, nggak mo mo lagi..".
Susahnya, sekarang salah satu rekanan di inkjeto ikut-ikutan menambah kapasitas cartridge. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dia menambah modalnya khusus untuk pembelian tersebut. Tidak hanya itu, dia juga mengajak saya untuk ikut menambah modal yang diinvestasikan di cartridge.

Saya memang tidak menyalahkan dia. Memang. beberapa hari yang lalu banyak customer yang menanyakan cartridge untuk printer mereka, dan kebetulan memang stok kami habis. Dari situ dia berusaha menambah kapasitas cartridge, dengan harapan calon-calon pembeli itu akan kembali lagi.

Bagi saya, hal semacam ini adalah suatu perhitungan yang sia-sia.
Uang sudah keluar, tapi belum ada kepastian transaksi, hanya menunggu dan berharap.
Prinsip "uang balik" tidak bisa berjalan lancar.

Tapi tidak perlu dijadikan masalah besar. Semua pasti ada positifnya.
Dan memang, semangat untuk berwirausaha tidak datang setiap saat. Kalau toh sekarang menerpa kami, kami sudah siap menyambutnya, meski arusnya kencang sekalipun.
Kami yakin ada kesejukan di dalamnya...
hehehe... sok puitis ya..

Selamat Berwirausaha & Tetap Semangat,
Dani

01 February 2008

Salah Perhitungan yang (Nyaris) Fatal

Kamis malam rekan saya sms. Dia bilang bahwa saldo akhir di toko kami (saya buka toko tinta patungan dengan teman) sampai hari ini 113 rb. Deg! Saya sangat kaget. Padahal saya belum mengalokasikan untuk pengeluaran rutin bulanan, seperti gaji karyawan, bayar listrik / telpon / air, dsb. Setelah saya telusuri kembali, ternyata modal saya habiskan untuk menambah kapasitas isi toko, seperti cartridge dsb.

Ceritanya, setelah setahun buka toko di garasi rumah, kami mencoba lokasi baru di sebuah kios di lingkungan kampus. Kami memilih bulan Januari 2008 sebagai awal yang tepat untuk pindah. Singkat cerita, toko sudah dibuka, transaksi pun berjalan seperti biasa. Mungkin karena terlalu semangat di lingkungan baru, saya menambah kapasitas isi toko untuk antisipasi permintaan-permintaan yang sering muncul dari para pelanggan tanpa memperhitungkan kondisi keuangan. Sementara teman-teman yang lain selama ini memang mempercayakan operasional toko kepada saya. Hanya saja karena kesibukan saya beberapa hari belakangan ini, jadi jarang mampir ke toko.

Wah, saya pikir saya harus gerak cepat. Akhirnya gaji karyawan saya ambilkan dari tabungan pribadi. Sementara bayar iuran yang lain, saya tunggu hingga batas jatuh tempo, dengan harapan ada pemasukan lagi yang bisa dipakai.

Sampai sekarang saya nggak habis pikir, kok bisa-bisanya hal kayak gitu terjadi. Padahal selama ini (setahun kemaren) saya termasuk cerewet soal uang. Selama ini memang saya selalu menyisihkan pengeluaran bulan depan di akhir bulan sebelumnya. Sesuai teori Robert Kiyosaki, kita harus fokus dan kontrol pada apa yang kita pegang, bukan yang di luar kontrol kita. Dan ini
yang selalu saya jalankan. Jadi di akhir bulan Januari, saya selalu menyisihkan untuk gaji karyawan bulan Pebruari dan iuran air / listrik / telpon bulan Pebruari. Dengan begini saya selalu bisa survive untuk 1 bulan kedepan (maklum, pemain baru). Saya juga melarang diri saya sendiri untuk mengeluarkan harapan (berharap bulan ini banyak pesanan, berharap banyak pembeli, dsb). Sekedar menghindari kesalahan perhitungan.

Tapi ya sudah lah. Ini pelajaran berharga.
Meskipun belum terlalu fatal, tapi efeknya jadi tidak baik.

Salam sukses,
Dani

31 January 2008

Satu Lagi Wisudawati TDA

Hari ini, rekan kerja wanita di Bali mengirimkan email "Hari ini hari terakhir aku masuk kerja. Ini emailku yang lain ..bla..bla.. dst". Dia pamit dengan alasan klasik, menjadi ibu rumah tangga. tapi saya yakin bukan itu.

Justru kesibukan di balik "rumah tangga"nya lah yang saya yakin mengharuskan dia resign lebih awal. Pada saat masih bekerja, dia sudah memiliki beberapa usaha bersama-sama dengan suaminya. Selain memiliki sebuah toko, sang suami juga memiliki usaha sendiri di bidang IT. Sementara dia sendiri memiliki toko online yang menjual pernak-pernik Bali khusus export (dia juga meng klaim websitenya tidak akan bisa dibuka pake IP lokal.. Hehe.., Nggak berlaku dong, buat saya..).

Pernah dia mengeluh sulit sekali membagi waktu antara kerja dan bisnis. Padahal dia sudah menambah asisten untuk membantu toko online nya. Terakhir saya dengar asistennya sudah menjadi 4 orang.

Nampaknya sekarang dia sudah menemukan jawabannya.
Hehe.. salut deh. Butuh keberanian untuk memulai dunia baru.

Sebentar lagi saya pasti nyusul.
(Jadi ikut-ikutan panas neeh.. )

Tetap Semangat,
Dani

Fenomena 21 Tahun

Kabut.
Ya, Kabut. Hari Rabu pagi, seperti biasa setelah sholat subuh, saya buka pintu-pintu pagar. Suasana pagi yang tenang dan sejuk seperti ini selalu yang saya cari. Karena dari sini selalu muncul ide-ide yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Tapi Rabu kemaren terasa lain. Saya tertegun melihat pemandangan di sekitar perumahan saya. Samar-samar tampak kabut memenuhi sekeliling perumahan. Ini Aneh. Kenapa, karena Semarang merupakan kota pantai, dan seumur-umur saya belum pernah menemukan munculnya kabut di kota Semarang, apalagi Semarang bawah.

Tanpa pikir panjang langsung saya ajak Bella, anak saya nomor 1, untuk menikmati kabut. Saya jadi seperti orang udik. Terus terang, selama 21 tahun tinggal di Semarang, baru kali ini ada kabut, di perumahan saya lagi. Dulu saya sempat membayangkan memiliki rumah di daerah atas. Senang sekali rasanya berada di dalam kabut di pagi hari. Wah, jadi berandai-andai..

Tapi sekarang, saya tidak perlu lagi berandai-andai. Meskipun hanya sehari, tapi saya sangat senang, karena keinginan saya dapat terwujud.

Berarti sekarang saya perlu berandai-andai lagi nih..

Siapa tau ada efek LOA yang numpang lewat.. hehe..

tetap Semangat,
Dani